ILMU BUDAYA DASAR
“STORY TELLING JAKA TARUB”



Legenda Jaka
Tarub adalah salah satu cerita rakyat yang diabadikan dalam naskah populer
Sastra Jawa Baru, Babad Tanah Jawi.
Kisah ini
berputar pada kehidupan tokoh utama yang bernama Jaka Tarub (“Pemuda dari
Tarub”). Setelah dewasa ia digelari Ki Ageng Tarub. Ki Ageng Tarub adalah tokoh
yang dianggap sebagai leluhur dinasti mataram, dinasti yang menguasai politik
tanah Jawa – sebagian atau seluruhnya – sejak abad ke-17 hingga sekarang.

Kisah Jaka Tarub memiliki makna bahwa
DONGENG JAKA TARUB
P
|
ada jaman dahulu kala, di Desa Tarub,
tinggallah seorang janda bernama Nyi Randa Tarub. Sejak tinggal seorang diri,
Nyi Randa Tarub mengangkat seorang anak laki-laki yang dipelihara dan
dikasihinya. Anak ini berparas cakap dan sangat berbudi. Tugasnya membantu
pekerjaan Nyi Randa Tarub sehari-hari. Nyi Randa Tarub memanggilnya Jaka Tarub.
Orang – orang di Desa Tarub
mengenal Jaka Tarub sebagai pemuda yang dingin tangannya. Benih apapun yang
ditanamnya, selalu memberikan hasil berlipat ganda. Tak jarang para pengolah
ladang dan huma yang punya masalah dengan tanahnya, datang meminta pertolongan
padanya.
“Padiku terserang hama, Jaka
Tarub” kata mereka. Atau, “Buah Palawijaku kecil-kecil hasilnya.” “Tanahku
telah kupupuk dan kupelihara. Mengapa hasilnya tidak memuaskan juga?”
“Baiklah paman-paman, aku
akan segera membantu kalian setelah menyelesaikan pekerjaanku ini ya.” ujar
Jaka Tarub.
Dengan akal dan upaya, Jaka
Tarub membantu memecahkan masalah mereka. Bantuan selalu diberikannya dengan
cuma-cuma. Tak pernah Jaka Tarub mau menerima upah dari mereka.
N
|
yi Randa Tarub telah berusia lanjut.
Tak lama lagi maut mungkin akan datang menjemput. Ia semakin mengkhawatirkan Jaka
Tarub yang belum memiliki pendamping hidup.
“Nak, apa kamu tidak lelah
setiap hari selalu bekerja? Sesekali bersosialisasilah dengan teman-teman
sebayamu. Siapa tahu kau menemukan jodohmu nak.” Kata Nyi Randa Tarub.
“Haha Nyi ini bicara apa, aku
bekerja setiap hari demi membahagiakanmu Nyi, aku tidak pernah merasa lelah.”
“Aku tidak tertarik pada
gadis di kampung ini Nyi, suatu saat aku pasti akan menemukan jodohku sendiri.”
Ujar Jaka Tarub.
T
|
anpa terduga-duga, hal yang
dikuatirkan terjadi juga. Karena lanjut usia, pada suatu hari Nyi Randa Tarub
berpulang dengan tenang ke alam baka. Saat itu Jaka Tarub tidak ada di tempat.
Dia tengah mengumpulkan kayu bakar di tengah hutan yang lebat. Berita sampai ke
telinganya, namun sudah terlambat.
Nyi Randa Tarub sudah tidak
ada. Jaka Tarub merasa hasil kerjanya percuma saja. Nyi Randa Tarub kini tidak
lagi membutuhkan tenaganya. Usahanya mengolah ladang dan huma sia-sia belaka.
“Nyi Randa Tarub, kini kau
telah pergi meninggalkanku seorang diri, aku merasa sudah tidak berguna lagi, jikalau
aku pergi bekerja, untuk siapa aku bekerja?” ujar Jaka Tarub dengan penuh
penyesalan.
J
|
aka Tarub kini lebih senang
menyendiri. Orang desa kerap menjumpai dia tengah termenung. Sifatnya yang
ramah berubah jadi pemurung.
Kehidupan Jaka Tarub kini semakin
serba tidak teratur, rasa lelah kerap menghampirinya dan membuatnya mengantuk
hingga jatuh tertidur. Jaka Tarub bermimpi tengah memakan daging kijang muda
yang sangat lezat. Saat ia terbangun, gairahnya muncul untuk segera memburu
kijang muda sungguhan.
Namun alangkah sial dirinya,
hari itu Jaka Tarub berkeliling di dalam hutan memburu kijang muda tapi nihil
tiada hasil. Jaka Tarub mulai putus asa. Ia terduduk melamun meratapi nasibnya.
Tapi alangkah terkejutnya Jaka Tarub melihat keindahan alam yang baru saja
terjadi, alam yang baru saja diliputi hujan kini berubah menjadi cerah dan
berwarna indah.
Tiba-tiba langit yang cerah mengeluarkan
tujuh warna yang menakjubkan, dari merah terang hingga ungu muda. Namun ada
yang janggal, dari ke-tujuh warna yang muncul dilangit ternyata turunlah tujuh
sosok gadis berparas anggun nan cantik sesuai dengan ke-tujuh warna tadi.
Jaka Tarub merasa takjub,
terlebih dengan pesona gadis bergaun ungu muda yang terlihat anggun nan menawan
yang telah berhasil memikat hati Jaka Tarub. Gadis tersebut yang paling muda
diantara warna lainnya, dan para kakaknya memanggilnnya Nawang Wulan.
T
|
ujuh bidadari mendarat dengan
sempurna di sebuah telaga di dalam hutan. Kesejukan dan kesegaran air di telaga
memikat para bidadari untuk turun dari khayangan. Mereka berniat untuk bermain
air bersama dan membersihkan badan.
Jaka Tarub tidak ingin
menyia-nyiakan kesempatan berharga itu. Ia lantas segera mengambil sebuah
selendang berwarna ungu muda milik Nawang Wulan dan menyembunyikannya.
Tujuh bidadari kembali
bersiap untuk pulang ke khayangan. Namun berbeda dengan Nawang Wulan. Ia tampak
kebingungan mencari sehelai selendang kesayangan.
Tanpa menunggu lama, keenam
bidadari pergi terlebih dahulu,meninggalkan sang adik yang paling bungsu.
Nawang Wulan terlihat sedih,
ia tak tahu harus berbuat apa di bumi ini. Karena ia bukan seorang manusia, ia
adalah sesosok bidadari! Ditengah kesedihannya itu, muncul sesosok pemuda
tampan yang kemudian menghampirinya.
“Wahai, siapakah gerangan
Adinda ini?”
“Mengapa Adinda menangis sendiri di
tengah hutan?” ujar Jaka Tarub.
“Aku adalah bidadari, aku ditinggal
oleh keenam saudariku karena aku kehilangan selendang milikku. Aku tidak bisa
pulang ke khayangan tanpa selendangku.” Jawab Nawang Wulan.
“Baiklah, bagaimana jika kau ikut
bersama pulang ke gubuk milikku, kau akan aman disana.” Ajak Jaka Tarub.
Tanpa berpikir dua kali,
Nawang Wulan ikut bersama Jaka Tarub dan tinggal di gubuk miliknya
bersama-sama.
S
|
emakin hari Jaka Tarub merasa
semakin jatuh hati pada Nawang Wulan. Mereka berdua akhirnya memutuskan untuk
menjadi pasangan suami-istri dengan sebuah persyaratan dari Nawang Wulan yang
kemudian disetujui oleh Jaka Tarub.
“Aku
mau menjadi istrimu asalkan kau menyetujui syaratku, yaitu aku minta kau
memaklumi cara hidupku sebagai seorang bidadari. Aku punya cara tersendiri
dalam melaksanakan tugas sehari-hari. Kanda harus berjanji untuk tidak
memasalahkan caraku ini.” Ujar Nawang Wulan.
Jaka
Tarub hanya mengangguk sebagai pertanda bahwa ia setuju. Dan Nawang Wulan
melanjutkan pembicaraan dengan pembagian tugas antara suami-istri.
“Kanda
bertanggung jawab atas pekerjaan di ladang dan huma. Tanggung jawabku adalah
dapur dan rumah. Aku tidak akan mempermasalahkan bagaimana cara kanda mengolah
tanah, maka Kanda pun jangan mempermasalahkan bagaimana aku mengolah dapur dan
rumah. Bila perjanjian ini disepakati, aku baru bersedia untuk diperistri.”
“Baiklah
Nawang Wulan, aku bersedia memenuhi persyaratanmu itu” jawab Jaka Tarub dengan
mantap.
K
|
ehidupan suami-istri mereka
jalani dengan saling mengasihi. Seakan-akan tak ada pasangan lain yang lebih
serasi di muka bumi. Sang suami rajin dan rendah hati, sedangkan sang istri setia
dan baik budi. Yang satu gagah dan tampan, yang satu cantik nan rupawan. Tak
seorang pun yang mengira bahwa suami-istri ini berasal dari dua dunia yang
berbeda!
Kebahagiaan Jaka Tarub pun berlipat ganda dikala ia dikarunia
seorang anak perempuan yang diberi nama Nawangsih. Nawang Wulan berhasil
melahirkan seorang anak tanpa bantuan siapa pun. Ia bahkan tidak terlihat lelah
ataupun letih, justru ia langsung kembali seperti sedia kala. Mengerjakan
tugas-tugas rumah dengan sepenuh hati.
Jaka Tarub heran dan semakin bertanya-tanya. Apa sebenarnya
yang terjadi pada sang istri. Ingin rasanya hati untuk menyelidiki. Namun
apadaya, Jaka Tarub teringat kembali pada sebuah janji.
Rasa penasaran pun semakin bergejolak ketika Jaka Tarub
mendengar perkataan para tetangga. Mereka berkata bahwa Nawang Wulan adalah
siluman. Yang suatu hari mungkin bisa membuat anaknya tidak aman. Puncak rasa
penasaran itu pun terjadi ketika Jaka Tarub membuka lumbung, hendak menyimpan
hasil panen yang melimpah. Jaka Tarub terkejut. Sepasang alisnya mengerut.
Lumbung padinya ternyata masih penuh! Padinya masih utuh! Wahai, bagaimanakah
ini bisa terjadi? Sedangkan setiap hari Nawang Wulan memasakkannya nasi!
Mengapa persediaan pandi di lumbung tidak berkurang sama sekali?
J
|
aka Tarub tidak lagi dapat
menahan hati. Terlalu banyak peristiwa yang ia tidak mengerti. Tingkah laku
istrinya kini mulai diselidiki. Tanpa disadari, Jaka Tarub telah melupakan
janji!
Pada suatu hari, ketika
Nawang Wulan sedang pergi, Jaka Tarub menyelinap ke dalam dapur. Periuk nasi di
atas api sedang berkepul.
“Nawang Wulan sepertinya sedang tidak di rumah, ini kesempatan
baik untukku.” Ujar Jaka Tarub.
“Apa ini? Mengapa di dalam
periuk nasi hanya ada sebulir padi?” “Bagaimana caranya ini dapat menjadi
sebuah nasi?”
Jaka Tarub segera menyadari. Istrinya yang rupawan memanglah
sesosok bidadari. Yang hanya membutuhkan sebulir padi untuk memasaknya menjadi
nasi. Kini dia mulai menyesali. Dirinya telah melanggar sebuah janji.
S
|
aat Nawang Wulan tiba di
rumah, ia terkejut sekali melihat isi periuk nasi yang seharusnya sudah terisi
penuh oleh nasi namun masih berwujud sebulir padi. Ia tahu ada sesuatu hal yang
telah terjadi. Sang suami pasti telah ingkar janji. Dan kini padi hanyalah
sebulir padi. Tak bisa dengan cepat berubah menjadi buliran nasi.
Semenjak hari itu Nawang Wulan mulai menjalani hari-harinya
dengan penuh kerja keras. Tidak ada lagi waktu luang untuk bersantai, karena
semua pekerjaan rumah dilakukannya dengan cara manusia. Ia tidak bisa
mempergunakan kekuatan bidadarinya lagi. Semua akibat kecerobohan sang suami.
Jaka Tarub merasa sangat bersalah, setiap hari Nawang Wulan
terlihat begitu lelah. Raut wajahnya tak lagi terpancar indah. Kehidupan Nawang
Wulan yang dulu serba mudah, jauhlah berubah menjadi serba susah.
Suatu hari Nawang Wulan merasa kelelahan setelah lama
menjalani rutinitas beratnya di rumah, sebagai istri dan juga sebagai ibu. Ia
beristirahat sejenak di lumbung padi yang kini terlihat lebih luas karena
padi-padinya dipergunakan secara wajar untuk makanan sehari-hari. Saat hendak
beristirahat, sesuatu yang tak terduga pun terjadi. Nawang Wulan menemukan
sesuatu yang sangat berharga miliknya sejak dulu.
“Aku rasa hari ini memang
sangat melelahkan, aku sudah tidak kuat lagi dengan semua ini. Aku merasa
ajalku sebentar lagi akan tiba. Lebih baik aku beristirahat sejenak di lumbung
padi ini.”
“Ya ampun, apa ini?! Inikah
selendang milikku yang telah lama hilang itu? Mengapa bisa ada di sini? Apakah
mungkin Jaka Tarub menyembunyikannya?”
Rahasia yang selama ini disembunyikan Jaka Tarub akhrinya
terungkap oleh istrinya sendiri. Membuat keluarga kecil berbeda dunia ini harus
berpisah demi sang bidadari. Perbedaan yang begitu jauh sudah tidak bisa
dipersatukan kembali.
“Aku harus kembali ke
khayangan jika masih ingin bertahan hidup menjadi bidadari” ujar Nawang Wulan.
“Aku tidak bisa lebih lama
lagi tinggal di dunia ini, aku tidak akan mampu. Karena memang sesungguhnya
dunia kita berbeda. Dan takdir kita pun berbeda. Kita tidak akan bisa bersatu
kakanda.” Katanya menambahkan dengan suara lirih.
“Maafkan aku adinda. Aku dan
Nawangsing akan selalu mengingatmu. Kami ikhlas jika engkau ingin kembali ke
duniamu.” jawab Jaka Tarub.
“Percayalah, dari atas sana
aku akan terus menjaga, memelihara, dan mencintai. Auraku akan melindungi
kalian sepanjang waktu” kata Nawang Wulan seraya meninggalkan Jaka Tarub dan
putri mereka.
S
|
emenjak ditinggal oleh Nawang Wulan, Jaka Tarub dan
selalu hidup dalam keadaan aman dan selalu terhindar dari bahaya. Secara ajaib,
Jaka Tarub dan putrinya tidak pernah merasa kehilangan Nawang Wulan. Mereka
percaya, Nawang Wulan masih ada di antara mereka berdua. Aura bidadarinya
menerangi gubuk mereka. Cintanya yang murni telah menghangati hati suami dan
putrinya. Walaupun tanpa ujud yang nyata, Nawang Wulan tetap hadir untuk
menjaga, memelihara dan mencintai mereka.
Nawang Wulan tidak pernah melupakan mereka, Nawang Wulan, sang
bidadari khayangan, menepati janjinya.
-SELESAI-